Selasa, 10 Maret 2015

SEJARAH AWAL FOTOGRAPHY

SEJARAH AWAL FOTOGRAPHY
 
 
Sejarah Awal Mula Fotografi
 
  Fotografi berasal dari bahasa Yunani yakni photos yang berarti cahaya dan Grafo yang artinya menulis atau melukis. Fotografi merupakan teknik untuk menghasilkan gambar yang tahan lama melalui suatu reaksi kimia yang  terjadi, ketika cahaya menyentuh permukaan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Ternyata istilah itu muncul jauh setelah teknologinya ditemukan yaitu pada tahun 1839. Berikut ini merupakan orang-yang yang mempunyai jasa besar dalam bidang fotografi hingga era digital. Pertama adalaha Al Hazen pada tahun 1000 M , pelajar berkebangsaan Arab ini merupakan penemu dari konsep fotografi. Ia menuliskan bahwa citra dapat dibentuk dari cahaya yang melewati sebuah lubang kecil. 
          
       Hal yang sama juga dituliskan oleh Leonardo Da Vinci sekitar 400 tahun kemudian. Penemuan Da Vinci tersebut kemudian di bukukan oleh Battista Delta Porta dengan judul Camera Obscura yang berasal dari bahasa latin yaitu camera yang berarti kamar dan obscura yang artinya gelap.  Dengan publikasi ini, Battista dianggap sebagai penemu prinsip kerja kamera. Memasuki abad 17, dunia fotografi mengalami kemajuan. Jika pada awalnya hanya pada konsep proyeksi sebuah image atau citra, pada era ini sudah mengarah pada cara untuk merekam citra tersebut. Penemuan tersebut dihasilkan oleh Angelo Sala dari Italia yang menuliskan bahwa jika serbuk perak nitrat terkena cahaya maka warnanya akan berubah menjadi hitam. Namun kendalanya adalah rekaman dengan menggunakan serbuk itu tidak bertahan lama.
 
      Pada tahun 1824, Joseph Nieephore Niepee Nieephore Niepee, seorang lithograf berhasil membuat gambar permanen pertama yang dapat disebut "FOTO" dengan tidak menggunakan kamera, melalui proses yang disebutnya Heliogravure atau proses kerjanya mirip lithograf dengan menggunakan sejenis aspal yang disebutnya Bitumen of judea, sebagai bahan kimia dasarnya. Kemudian di cobanya menggunakan kamera, namun ada sumber yang menyebutkan Niepee sebagai orang pertama yang menggunakan lensa pada camera obscura. Pada tahun 1829, Joseph bekerja sama dengan Louis Jacques Mande Daguerre yang merupakan seorang pelukis. Namun itu tidak bertahan lama karena Joseph meninggal pada tahun 1833. Sebenarnya sebelum bekerja sama dengan Daguerre, Joseph sendiri telah menghasilkan foto pertama yang berjudul View From Window at Gras yang disimpan di University of Texas di Austin, USA.

     Teknologi yang dikembangan oleh Joseph belum bisa diterima oleh masyarakat umum karena pelat yang digunakan harus disinari selama beberapa jam. Sepeninggalan Joseph, Daguerre bekerja sendiri selama enam tahun dan berhasil mempublikasikan temuannya ke seluruh dunia. Dengan bantuan seorang ilmuwan Daguerre berhasil menemukan teknologi yang dapat menghasilkan foto-foto permanen yang disebut Daguerretype yang tidak dapat diperbanyak. Teknologi ini sekarang lebih dikenal sebagai teknik cetak positif. Pada 25 januari 1839, hanya beberapa hari setelah Daguerre menemukan teknik cetak positif, William Henry Fox Talbot menemukan teknologi yang sekarang dikenal sebagai contactprint. Teknologi ini memungkinkan sebuah foto untuk diperbanyak. Pada satu tahun kemudian, Talbot menemukan teknologi calotype yang sekarang dikenal dengan teknik cetak negatif.

      Pada tahun 1850, seorang ahli kimia Inggris yaitu Robert Bingham memperkenalkan teknologi Wet-Plate Photography. Dan kemudian diikuti dengan pengembangan roll film. Dan pada tahun 1888, George Eastman berhasil mengembangkan teknologi kamera yang dapat dibawa kemana-mana dengan leluasa karena bentuknya lebih kecil. Kamera ini diberi nama Kodak yang merupakan sebuah kamera box kecil dan ringan pertama yang berisikan roll film. Pada masa Daguerre dan Talbot timbul polemik tentang siapa yang sebenarnya yang lebih dulu menemukan teknologi peletakan plat/kertas pada camera obscura. Namun seperti yang telah disebutkan sebelumnya, ternyata ada perbedaan signifikan yang terletak pada penemuan keduanya. Daguerre yang hasil penelitiannya disebut Daguerretype lebih mirip pada teknik cetak positif sekarang. Sedangkan penelitian Calotype milik Talbot, lebih pada teknik cetak negative.

       Perkembangan teknologi fotografi kemudian merambah ke bidang kesehatan. Pada tahun 1901, Conrad Rontgen berhasil mengembangkan teknologi fotografi sinar X untuk pemotretan tembus pandang. Karena kontribusinya dibidang kesehatan, Rontgen kemudian mendapatkan hadiah nobel bidang kesehatan. Dan peralatan pemotretan itu kemudian dinamai dengan nama belakangnya. Pengembangan pemanfaatan cahaya buatan untuk kegiatan fotografi seperti yang dikembangkan oleh Rotgen, juga dilakukan oleh Dr. Harold Edgerton. Dibantu oleh Gjon Mili, Ia menemukan lampu yang bisa menyala mati dalam hitungan sepersekian detik. Teknologi ini sekarang dikenal dengan sebutan lampu flash (blits).

     Pemanfaatan teknologi inframerah dalam fotografi juga banyak membantu dalam penelitian. Kabut yang semula tidak dapat ditembus cahaya, kini dapat ditembus dengan menggunakan teknologi inframerah. Sehingga pemotretan didaerah yang banyak diselimuti kabut menggunakan teknologi ini.
Dikatakan bahwa perkembangan fotografi semakin pesat, seiring masuknya fotografi dalam dunia jurnalistik cetak. Pada mulanya sebuah foto hanya dapat disalin melalui lukisan tangan. Surat kabar pertama yang memuat gambar adalah The Daily Graphic pada 16 April 1877. Gambar yang dimuat adalah gambar sebuah peristiwa kebakaran. Dan kemudian foto pengeboran minyak Shantytown karya Henry J. Newton adalah foto pertama yang dimuat oleh media cetak. Foto ini dimuat di surat kabar New York Daily Graphic di Amerika pada 4 Maret 1880.

      Era digital bisa dikatakan dimulai pada tahun 1990 pada saat Kodak meluncurkan kamera digital pertama yaitu DSC 100. Sejak itulah kamera digital mulai dikembangkan oleh banyak produsen kamera. Sebenarnya teknologi rekam tanpa film sendiri sudah dimulai oleh perusahaan elektronik Sony pada tahun1981 melalui produknya Sony Mavica. Akan tetapi kamera tersebut masih menggunakan televisi sebagai alat preview sehingga belum bisa dikatakan sebagai kamera digital. Awal perkembangannya, kamera kamera yang dihasilkan belum layak pakai. Pasalnya resolusinya hanya dibawah 1 megapiksel. Sementara untuk mencetak foto seukuran majalah dibutuhkan resolusi minimal 2 megapiksel. Namun hadirnya Fuji-Nikon E-2 dapat dapat mengatasi masalah tersebut. Kamera hasil kerjasama produsen Fuji dan Nikon ini memiliki resolusi 1,3 megapiksel. Masalah lain muncul ketika kamera ini kekurangan kapasitas penimpanan. Untungnya hal itu bisa segera teratasi dengan hadirnya media penyimpanan dan resolusi kamera yang semakin pesat. Hal ini membuat perkembangan teknologi kamera digital semakin tak terbatas.Kemajuan teknologi turut memacu fotografi secara sangat cepat. Kalau dulu kamera sebesar tenda hanya bisa menghasilkan gambar yang tidak terlalu tajam, kini kamera digital yang cuma sebesar dompet mampu membuat foto yang sangat tajam dalam ukuran sebesar koran.
 
    Pada perkembangannya, kini para pengguna kamera lebih memilih cara yang praktis dengan beralih menggunakan kamera teknologi digital, ketimbang dengan menggunakan teknologi film. Pasalnya penggunaan kamera digital lebih mudah, murah, instan dan tidak menghabiskan banyak space penyimpanan.